Showing posts with label Robot. Show all posts
Showing posts with label Robot. Show all posts

Friday, April 3, 2015

ECA A18 AUV Alat Canggih Pendukung Survei Bawah Air

Perusahaan Prancis meluncurkan produk baru untuk kebutuhan laut dalam. Produk sarat teknologi itu dirancang untuk survei bawah air, dengan kedalaman hingga 3000 meter.
 

ECA A18 AUV (Autonomous Underwater Vehicle),  merupakan produk sebuah perusahaan yang berbasis di Prancis. Peralatan tersebut dilengkapi sistem robotika, otomatisasi dan simulasi.

ECA A18 AUV (Autonomous Underwater Vehicle)
ECA A18 AUV (Autonomous Underwater Vehicle)

Sistem peralatan tersebut, sebagaimana dilansir Maritime Journal, dapat beroperasi di bawah air selama lebih dari 24 jam di kedalaman 3.000 m. Dilengkapi sensor miniatur spesialis dan software, telah dirancang khusus untuk survei hidrografi, oseanografi penelitian, eksploitasi sumber daya dasar laut, dan mencari guna sebuah operasi penyelamatan di laut. Sehingga peralatan itu dapat gambar 3D di dasar laut.

Peralatan tersebut dapat dioperasikan melalui peluncuran dan pengambilan yang berbeda dari sistem yang tersedia dari perusahaan. Harga pasaran peralatan tersebut, dengan berat antara 50 dan jangkauan 120kg, berkisar antara €1.5 miliar Euro hingga €5 miliar Euro. (JMOL)

Saturday, March 21, 2015

"Cyborg Cockroaches" Kecoa Pintar Pencari Korban Bencana

Pernahkan Anda membayangkan jika Kecoa suatu saat nanti menjadi pahlawan tatkala terjadi bencana yang tidak bisa sepenuhnya diatasi oleh manusia.?

Kecoa "Cyborg Cockroaches" suatu hari nanti dapat digunakan untuk membantu manusia mencari korban kecelakaan seperti masuk kedalam reruntuhan tambang bawah tanah guna mencari korban selamat atau melakukan tugas berbahaya seperti memasuki pembangkit listrik tenaga nuklir.

"Cyborg Cockroaches" Kecoa Pintar Pencari Korban Bencana
Cyborg Cockroaches menggendong peralatan elektronik yang dapat mengendalikan pergerakannya. | foto : Carlos Sanchez/livescience

Tim peneliti menggunakan kecoa hidup yang telah dilengkapi dengan elektrode untuk menstimulasi saraf pada antena kecoa tersebut.  Para peneliti dapat mengendalikan arah pergerakan kecoa dari jarak jauh. 


"Meski kecoa dianggap hama rumah, kegunaannya masih lebih baik bila dibandingkan dengan robot berukuran kecil yang pernah diciptakan," kata Hong Liang, imluan asal Texas A&M University Collage Station, Texas, AS, seperti dikutif Livesience. Ia menambahkan, alat pengendali jarak jauh membuat operator dapat memerintahkan kecoa pergi kemana saja, termasuk lokasi bencana yang membahayakan manusia.

Liang dan tim memasang elektorde pada saraf kecoa jenis amerika (Periplaneta americana) dan kecoa jenis discoid (Bleberus discoidalis). Meski nampak kejam karena menggunakan kecoa dan mengotrol kebebasan kehidupannya, namun waktu istirahat tetap diberikan kepada kecoa tersebut.

Thursday, March 12, 2015

Di Masa Depan Iran Terjunkan Prajurit Robot Untuk Berperang

Ketika negara Islam Iran di masa depan akan berperang, yang maju tak hanya prajurit manusia namun juga ‘prajurit’ robotika.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Komandan Angkatan Darat Iran, Letnan Jenderal Ahmad Reza Pourdastan. Berdasarkan sumber berita asal Iran, Fars News Service, penggunaan teknologi mumpuni itu dianggap cukup menakutkan.


Di Masa Depan Iran Terjunkan Prajurit Robot Untuk Berperang

Pourdastan mengatakan, Self-Sufficiency Jihad Organization bergabung dengan tentara AD Iran sedang mengembangkan robot perang tersebut yang dikabarkan akan mampu menjalankan berbagai tugas.

Walau belum banyak informasi mengenai kehebatan robot perang ini, berdasarkan perkiraan robot canggih Iran akan dilengkapi dengan sejata mesin apik berukuran 7,62 mm, misil atau roket yang bakal dikendali dari jauh (remote controlled), serta thermal camera yang mampu beroperasi di kondisi malam.


Robot perang Iran ini dikabarkan akan dibekali kemampuan operasi dengan jarak lima sampai tujuh kilometer.

Kantor berita CNN sempat mewartakan, kemunculan robot di medan perang modern telah terjadi secara cepat.

Saat Amerika Serikat menyerbu Irak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, AS hanya menggunakan sistem drone di udara dan tak ada teknologi mumpuni untuk pertahanan darat.

Kini, inventaris pertahanan udara AS sudah mencapai sekitar tujuh ribu drone helikopter seperti jenis Predator and Reaper.

Tentara AS kemudian mencobakan robot perang untuk pertahanan darat dan sekarang sudah mencapai angka 12 ribu, salah satunya iRobot PackBots yang digunakan untuk pemboman Afganistan. Lalu tahun lalu, pihak AS berharap robot pada akhirnya bisa menggantikan seperempat tentara manusia pada pertengahan abad mendatang.

Sementara di Suriah, penentang pemerintahan Bashar al-Assad pada 2013 silam juga menggunakan robot bersenjata mesin yang dikendalikan dari jauh untuk memantau tanpa membahayakan manusia. (CNN Indonesia)

Tuesday, October 7, 2014

Mengenal Little Moe, Robot Mungil Pembunuh Virus Ebola

Perusahaan pembasmi kuman asal San Antonia, AS, Xenex. Berhasil membuat robot anti virus ebola yang belakangan ini meresahkan penduduk Dunia. 


Little Moe, Robot Mungil Pembunuh Virus Ebola

Robot kecil sekitar setengah meter yang diberi nama Little Moe ini mampuh membersihkan ruangan dari virus berbahaya dalam hitungan menit. Litte Moe diproyeksikan menjaga ruangan di rumah sakit di Dallas, yang merawat seorang yang diduga terinfeksi Ebola.

Diharapkan dengan robot ini, rumah sakit itu bebas Ebola. Robot ini memang dikhususkan untuk membasmi kuman dalam ruangan, yang saat ini tengah muncul Ebola di AS.


Melansir Daily Mail, Rabu 8 Oktober 2014, Litte Moe saat ini tengah disiagakan pada 250 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Amerika Serikat, termasuk rumah sakit di Dallas tersebut.

Kinerja Little Moe tak main-main. Robot ini menggunakan xenon, gas tak beracun yang tak berwarna, untuk menghasilkan sinar ultraviolet yang nantinya digunakan menghancurkan virus.

Robot ini menyebarkan 1,5 tekanan per detik sampai area tiga meter setiap arah untuk membunuh virus Ebola. Saat sinar ultraviolet dipaparkan, Robot akan mengeluarkan sinar biru mirip kilatan.

Dilaporkan cahaya yang dihasilkan robot ini sangat terang, 25 ribu kali lebih terang dari sinar matahari.

"Robot kami menjamin ruang akan aman untuk pasien berikutnya, dengan menghancurkan kuman pada permukaan yang sensitif serta mampu membersihkan sudut dan celah ruangan," jelas juru bicara Xenex.

Disebutkan teknologi yang memanfaatkan sinar ultraviolet untuk mensterilkan ruangan, sebenarnya sudah ada dalam beberapa dekade. Tetapi, kemampuan pada robot Litte Moe menawarkan hal yang lebih canggih. Robot ini memiliki pemrosesan yang cepat dengan menggunakan xenon yang ditempatkan pada air raksa.

Basmi Ebola 2 menit

Sebagai perbandingan, mesin ultraviolet berbasis air raksa biasa butuh waktu satu jam untuk membasmi kuman dalam ruangan. Sedangkan robot Litte Moe hanya butuh waktu dua menit saja. 

"Misi kami selalu untuk menghilangkan patogen yang menyebabkan infeksi dan berdampak pada kesehatan serta kehidupa jutaan pasien serta keluarga mereka. Dan, Ebola tak berbeda dengan pembasmian kuman lainnya," jelas Xenex dalam pernyataannya.

Juru bicara itu mengatakan virus Ebola sebenarnya mudah untuk dibunuh dibandingkan penyakit lainnya yang kebal pembasmian kuman. Robot ini berbiaya US$104 ribu sekitar Rp1,7 miliar.

Virus Ebola yang muncul sejak 1976, telah menyebar menjadi wabah simultan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo.

Virus itu kini telah muncul di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Spanyol. Gejala Ebola meliputi demam, kelemahan terus menerus, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan diikuti dengan muntah-muntah, diare, ruam, ginjal dan gangguan fungsi hati. Dalam beberapa kasus terjadi pendarahan internal dan eksternal.

Ebola memiliki masa inkubasi panjang hingga 21 hari, artinya orang yang tertular dapat tak menyadari dirinya terinfeksi sampai munculnya gejala tersebut.




Sumber : VivaNews

Monday, August 25, 2014

Hitchbot : Robot Pengembara Asal Kanada

Hitchbot adalah robot kecil dengan sepatu bot warna-warni. Ia berkelana dengan cara menumpang pada kendaraan lain untuk menjelajahi seluruh Kanada selama tiga pekan. Dari Halifax di pantai Timur ke Victoria di pantai Barat. Sekarang ia sampai di tujuannya.

 
Berkelana di Kanada dengan Menumpang


Badan Hitchbot hanya terdiri dari sebuah ember. Tangan dan kakinya terbuat dari 'water noodle' yang biasa digunakan untuk mengapung di kolam renang, dan di ujungnya menggantung dua sepatu bot karet warna-warni. Hitchbot nampaknya sosok paling aneh dalam lalu lintas Kanada. Dengan jempol yang diacungkan ke atas, ia menunggu di tepi jalan sampai ada yang mau membawanya. Tujuannya: melintasi Kanada.








Orang Tua Yang Bangga


Pakar ilmu komunikasi Frauke Zeller dan koleganya David Smith dari Ryerson University Toronto membuat Hitchbot. Dengan proyek penelitian ini mereka ingin mencari tahu, apakah robot bisa percaya kepada manusia. Hitchbot dilengkapi dengan kamera serta mikrofon, dan bisa mengenali bahasa serta gerakan. Tetapi untuk transportasi ia tergantung pada manusia. 




Dari Pantai ke Pantai

Tanggal 27 Juli, Hitchbot memulai perjalanannya di Halifax di tepi pantai Timur. Untuk sampai ke tujuan di pantai Barat ia mengadakan perjalanan sepanjang 6.000 km, dan perjalanan selama tiga pekan. Itu jauh lebih cepat dari rencana semula. Sebelum tiba di pesta penyambutannya di Victoria, Hitchbot juga berkunjung ke Seattle dan beberapa suku Indian di provinsi British Columbia.

Tidak Pernah Sendirian

Nama Hitchbot berasal dari kata bahasa Inggris 'hitchhiking', yang artinya membonceng. Perjalanannya dilakukan dengan 18 kali membonceng orang berbeda. Tetapi ia tidak selalu berada di jalanan...

Pendamping Sopir dan Tamu Yang Disenangi

Dalam perjalanannya, robot kecil itu juga mendapat banyak undangan untuk datang ke pesta serta acara TV, dan ia tidak bisa hadir ke semua undangan. Tetapi ia ikut seorang sopirnya ke beberapa acara, misalnya ke pesta pernikahan di British Columbia, juga ke sebuah upacara suku Indian Wikwemikong.

Saudara untuk Hitchbot?

Perjalanan Hitchbot sudah berakhir, tapi hanya untuk sementara! Peneliti dari banyak negara sudah mengajukan permintaan agar Hitchbot juga mengadakan perjalanan di negara mereka. Apakah robot kecil itu akan mengadakan perjalanan lagi, atau mungkin mendapat adik, masih dipikirkan peneliti. Yang jelas: proyek akan diteruskan.


Sumber :
dw.de